Pengikut

Senin, 26 Januari 2026

Tugas Maintenance Practice : Composite


 


Tugas Maintenance Practice : 

Mengerjakan Soal Esai 

  1. Jelaskan pengertian material komposit dan sebutkan mengapa material ini banyak digunakan pada struktur pesawat udara?

  2. Sebutkan dan jelaskan dua komponen utama penyusun material komposit serta fungsi masing-masing dalam struktur komposit?

  3. Bandingkan material komposit dengan material logam yang biasa digunakan pada pesawat (misalnya aluminium), ditinjau dari berat, kekuatan, dan ketahanan korosi?

  4. Jelaskan jenis-jenis serat penguat yang umum digunakan pada komposit pesawat udara (misalnya serat kaca, serat karbon, dan serat aramid)?

  5. Mengapa material komposit sangat cocok digunakan pada bagian airframe pesawat? Jelaskan dengan minimal dua alasan teknis?

  6. Sebutkan contoh komponen pesawat udara yang terbuat dari material komposit dan jelaskan fungsi salah satu komponen tersebut?

  7. Jelaskan proses pembuatan komposit sederhana (misalnya hand lay-up) dan sebutkan langkah-langkah utamanya?

  8. Apa yang dimaksud dengan delaminasi pada material komposit? Jelaskan penyebab dan dampaknya terhadap keselamatan pesawat?

  9. Jelaskan kelebihan dan kekurangan material komposit dalam perawatan dan perbaikan (maintenance & repair) pesawat udara?

  10. Mengapa teknisi penerbangan harus memahami karakteristik dan penanganan material komposit? Jelaskan hubungannya dengan keselamatan penerbangan?


- Kerjakan di Buku MP
- Jika sudah selesai di foto lalu kirim japri (PC) via wa Sir Suharmadi

Merci 

Selamat Mengerjakan

Minggu, 23 November 2025

Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan AMTO dan mengeluarkan Basic License

 Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan AMTO dan mengeluarkan Basic License

Basic license penerbangan bisa maknanya agak luas , lisensi pilot seperti PPL (Private Pilot License) / CPL, atau lisensi teknisi / pemeliharaan pesawat, atau lisensi dasar lainnya di penerbangan? 

Saya jelaskan dulu beberapa perguruan tinggi / sekolah tinggi / politeknik penerbangan di Indonesia yang dikenal sebagai lembaga pelatihan penerbangan (aviation training) yang bisa terkait dengan lisensi penerbangan.

Berikut beberapa perguruan tinggi / institusi penerbangan di Indonesia yang bisa mengeluarkan lisensi penerbangan dasar:


Beberapa Perguruan Tinggi / Politeknik Penerbangan di Indonesia

  1. Politeknik Penerbangan Indonesia Curug (PPI Curug)

    • Dulu dikenal sebagai STPI Curug. (Kompas)

    • Program studi “Penerbang” di PPI Curug meliputi pelatihan untuk PPL, CPL, IR, ME, dan ATPL Ground. (Jurnal Politeknik Penerbangan)

    • PPI Curug adalah ATO (Approved Training Organization) yang diakui, sehingga bisa mengeluarkan lisensi penerbangan. (Kompas)

  2. Politeknik Penerbangan Makassar

    • Salah satu politeknik penerbangan di bawah Kementerian Perhubungan. (detikcom)

    • Memiliki program D3 penerbangan di bidang teknik navigasi udara, pemeliharaan pesawat, dan lainnya. (Kompas)

  3. Politeknik Penerbangan Surabaya (Poltekbang Surabaya)

    • Juga salah satu sekolah penerbangan kedinasan. (detikcom)

  4. Politeknik Penerbangan Medan (Poltekbang Medan)

    • Politeknik kedinasan penerbangan di Medan dengan program-prodi penerbangan. (detikcom)

  5. Politeknik Penerbangan Palembang

    • Poltekbang Palembang menyediakan jurusan terkait penerbangan. (detikcom)

  6. Politeknik Penerbangan Jayapura

    • Salah satu Poltekbang di wilayah Papua. (detikcom)

  7. Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan (STTKD)

    • Perguruan tinggi swasta yang memiliki jurusan penerbangan (S1 Teknik Dirgantara, D3 Aeronautika, manajemen transportasi udara, dsb.) (STTKD)

    • Bisa menjadi opsi untuk pendidikan teknis penerbangan + teori penerbangan, tergantung program.

  8. Lombok Institute of Flight Technology (LIFT)

    • Institusi terbang (flight academy) berbasis di Lombok yang punya lisensi sekolah penerbangan. (Wikipedia)

    • Fokus utamanya adalah pelatihan penerbang (pilot license) — bisa menjadi salah satu tempat untuk lisensi dasar penerbangan.

Jika “basic license” adalah lisensi pilot PPL/CPL, maka PPI Curug (Politeknik Penerbangan Indonesia) adalah salah satu pilihan utama di Indonesia. Jika maksudmu lisensi teknisi (pemeliharaan pesawat), politeknik seperti Poltekbang Makassar atau Surabaya bisa relevan.

Berikut beberapa perguruan tinggi / politeknik / lembaga di Indonesia yang menyediakan pelatihan basic license teknisi (AMTO) untuk lisensi A1, A4, dan C1–C4 (atau sebagian dari lisensi yang kamu sebut), beserta lisensi mana yang ditangani oleh masing-institusi:

Contoh Perguruan Tinggi / Politeknik yang Memberikan Basic License A1–A4 dan C-license

  1. Politeknik Negeri Batam (Polibatam)

    • Program Studi D3 Teknik Perawatan Pesawat Udara (TPPU) di Polibatam. (ms.polibatam.ac.id)

    • Mereka punya training AMTO Basic License untuk:

    • Menurut situs Polibatam, lulus setelah ~18 bulan dan mendapat lisensi dasar sesuai modul yang diambil. (Politeknik Negeri Batam)

  2. Politeknik Penerbangan Surabaya (Poltekbang Surabaya)

    • Program “Basic Airframe Powerplant A1, A4” — pelatihan 181 hari untuk mendapatkan sertifikat A1 dan A4. (Poltek Bangsby)

    • Program Avionic: “Basic Certificate Avionic C1, C2, C4” untuk radio, instrument, dan listrik pesawat. (Poltek Bangsby)

    • Dalam program D3 Teknik Pesawat Udara-nya, mereka juga menyatakan bahwa lulusan akan mendapat sertifikat A1, A4, serta C1 dan C4 (dan C2) tergantung jurusan. (Poltek Bangsby)

  3. Politeknik Negeri Bandung (Polban)

    • Polban punya AMTO (Aircraft Maintenance Training Organization) bersertifikasi dari DKPPU. (polban.ac.id)

    • Program AMTO Polban mencakup “Basic Certificate A1 & A4” (airframe fixed-wing dan turbine). (polban.ac.id)

  4. Politeknik Penerbangan Makassar (Poltekbang Makassar)

    • Prodi “Teknologi Pemeliharaan Pesawat Udara” (Maintenance) di Poltekbang Makassar. (Poltekbang Makassar)

    • Approval AMTO dari DKPPU untuk Basic Certificate: A1, A3, dan A4. (Poltekbang Makassar)

  5. STTKD Training Center

    • STTKD (Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan) Training Center punya program AMTO dengan approval 147D-17. (STTKD Training Center)

    • Mereka memberikan lisensi: A1 (Airframe fixed wing) dan A4 (Gas turbine engine). (STTKD Training Center)

Catatan Penting

  • Tidak semua institusi memberikan semua lisensi (A1–A4 dan C1–C4). Beberapa hanya menawarkan subset tertentu (misalnya Poltekbang Surabaya punya A1 & A4, dan C1, C2, C4).

  • Program AMTO (Aircraft Maintenance Training Organization) adalah jalur resmi untuk mendapat lisensi dasar (basic certificate) yang diakui oleh Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU / DGCA di Indonesia).

  • Durasi pelatihan basic license biasanya cukup lama karena kombinasi teori + praktik; contohnya Polibatam menyebut ~3000 jam atau ≈ 18 bulan. (Politeknik Negeri Batam)

  • Biaya mungkin cukup besar (misalnya Poltekbang Surabaya untuk A1/A4 sekitar tarif kursus). (Poltek Bangsby)

  • Pastikan untuk cek approval AMTO dari institusi tersebut: yang penting adalah institusi memiliki AMTO approval agar lisensi yang dihasilkan valid secara regulatori.

Berikut daftar beberapa AMTO (Aircraft Maintenance Training Organization) aktif di Indonesia (per 2024/2025) yang bisa menjadi pilihan untuk basic license teknisi (A-license / C-license), lengkap dengan lisensi dan beberapa info pendaftaran:

Daftar AMTO di Indonesia (2024/2025)

Institusi / AMTO Lisensi Basic yang Ditawarkan Catatan / Link Pendaftaran / Approval
1. Politeknik Negeri Batam (Polibatam) A1, A3, A4 (airframe + mesin) serta C1, C2, C4 (avionik) (Politeknik Negeri Batam) Polibatam membuka training AMTO Basic License untuk kedua jalur: perawatan mesin & avionik. (Politeknik Negeri Batam) Polibatam memiliki sertifikat AMTO dari DKPPU. (Polibatam)
2. Politeknik Negeri Bandung (Polban) A1.4 (Airframe / Turbin) (Politeknik Negeri Bandung) Polban terdaftar sebagai AMTO dengan Approval 147D-14 dari DKPPU. (Politeknik Negeri Bandung) Pendaftaran training AMTO terbuka untuk mahasiswa & publik umum. (Politeknik Negeri Bandung)
3. Politeknik Penerbangan Makassar (Poltekbang Makassar) A1, A3, A4 (airframe & mesin) (Poltekbang Makassar) AMTO Poltekbang Makassar mendapat persetujuan AMTO (Approval 147D-13) untuk basic certificate A1, A3, A4. (Poltekbang Makassar)
4. Politeknik Penerbangan Surabaya (Poltekbang Surabaya) A1, A4; dan C1, C2, C4 (avionik) (Wikipedia) Poltekbang Surabaya menyelenggarakan diklat A1 & A4 (dalam 167 hari) untuk basic license. (Kominfo Jatimprov) Menurut Wikipedia Poltekbang Surabaya, mereka menawarkan “Basic Certificate of Aircraft Maintenance Engineering (C1, C2, C4)”. (Wikipedia)
5. STTKD Training Center (Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan) A1 (Airframe), A4 (Turbine) (STTKD Training Center) STTKD TC memiliki Approval AMTO 147D-17 dari DKPPU. (STTKD Training Center) Durasi pelatihan AMTO di STTKD ≈ 18 bulan. (STTKD Training Center)
6. Telkom University – ATC / Avionic C1 (Radio), C2 (Instrumen), C4 (Electrical) (Amto Telkom University) Tel-U punya program Basic Aircraft Maintenance untuk kategori C (avionik) yang diakui oleh DKPPU melalui AMTO. (Amto Telkom University)
7. Politeknik Penerbangan Indonesia Curug (PPI Curug) A-license (melalui program D4 Teknik Pesawat Udara) (web.ppicurug.ac.id) PPI Curug adalah AMTO resmi (dengan AMTO-Certificate dari DKPPU). (web.ppicurug.ac.id) Program D4 Teknik Pesawat Udara di PPI Curug menyertakan pendidikan AMTO untuk maintenance pesawat. (web.ppicurug.ac.id)

Catatan Penting

  • Daftar ini tidak mencakup semua AMTO di Indonesia, tetapi beberapa AMTO “kedinasan / vokasi / perguruan tinggi besar” yang populer dan relatif aktif.

  • Sebelum mendaftar, pastikan untuk cek situs resmi masing-institusi untuk info pendaftaran terbaru (kuota, biaya, syarat) karena bisa berubah.

  • Periksa juga approval AMTO (nomor persetujuan) di website resmi Kementerian Perhubungan / Direktorat Kelaikudaraan & Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) agar memastikan program AMTO-nya sah dan lisensi yang keluar diakui.

semua AMTO yang memiliki izin untuk lisensi A1–A4 dan C1–C4 (termasuk swasta) per data resmi DKPPU saat ini dan kirim link resmi per AMTO (Aircraft Maintenance Training Organization) di Indonesia yang punya izin resmi (approval) dari DGCA / DKPPU + info lisensi dasar yang bisa dikeluarkan. Tapi catatan: tidak semua AMTO punya informasi publik lengkap untuk semua kategori lisensi (A1-A4, C1-C4), jadi daftar ini mungkin tidak 100% komprehensif, tapi cukup representatif.

Daftar AMTO Resmi / Terdaftar dengan Izin + Informasi Lisensi

Berikut beberapa AMTO di Indonesia lengkap dengan nomor persetujuan (approval) dan link resmi:

AMTO / Institusi Nomor Approval & Info Lisensi Basic yang Ditunjukkan di Sumber Publik
1. Politeknik Negeri Batam (Polibatam) Approval AMTO: 147D-15 (p4m.polibatam.ac.id) A1, A3, A4 (airframe + engine) dan C1, C2, C4 (avionik) (Politeknik Negeri Batam)
2. Politeknik Negeri Bandung (Polban) Approval AMTO: 147D-14 (Politeknik Negeri Bandung) Basic Certificate A1.4 (Politeknik Negeri Bandung)
3. STTKD Training Center (Sekolah Tinggi Teknologi Kedirgantaraan) Approval AMTO: 147D-17 (STTKD Training Center) Lisensi Basic A1 (Fixed Wing Airframe) & A4 (Gas Turbine) (STTKD)
4. Telkom University – Aviation Training (Avionic) AMTO Telkom Univ: 147D-19 (Amto Telkom University) Kategori C (avionik): radio, instrumen, electrical (Amto Telkom University)
5. Politeknik Penerbangan Indonesia – Curug AMTO Approval: 147D-03 (sesuai sertifikat AMTO Curug) (Scribd) Dalam opspec AMTO Curug: “Basic Aircraft Maintenance Training” untuk:
  • Airframe (pesawat terbang / helikopter)

  • Mesin piston & turbin

  • Avionik: radio (C1), instrumen (C2), dan listrik (C4) (Scribd) |

Catatan dan Saran

  • Karena daftar AMTO bisa berubah (AMTO bisa mendapat perpanjangan izin / penundaan), sangat disarankan untuk cek situs resmi DGCA / DKPPU / Kemenhub untuk daftar AMTO paling up-to-date.

  • Saat memilih AMTO, perhatikan lisensi basic mana yang ditawarkan: tidak semua AMTO menyediakan semua lisensi (A1–A4, C1–C4).

  • Pastikan untuk mengecek syarat pendaftaran, durasi pelatihan, dan biaya di situs AMTO karena bisa sangat bervariasi.

  • Saat lulus dan mengikuti ujian AMTO, pastikan hasil pelatihannya diakui untuk lisensi yang ingin kamu ambil.

Tambahan untuk lembaga swasta : 

1. Universitas Nurtanio (UNNUR), Bandung

2. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma (UNSURYA), Halim, Jakarta

  • Di Laporan Tahunan UNSURYA tercantum bahwa UNSURYA punya program AMTO. unsurya.ac.id

  • Tepatnya di Fakultas Teknik Dirgantara & Industri, prodi “Teknik Aeronautika” punya “Program AMTO (Aircraft Maintenance Training Organization)”. unsurya.ac.id

  • Namun, saya tidak menemukan sumber publik yang jelas menyatakan lisensi basic mana (A1–A4 atau C1–C4) yang ditawarkan di program AMTO UNSURYA.

  • Ada penelitian / tulisan di jurnal yang menyatakan bahwa UNSURYA “berharap … memiliki sertifikat AMTO” di masa depan. Pusat Jurnal Ilmiah Itu berarti program AMTO mereka bisa masih dalam pengembangan untuk lisensi penuh dan mungkin belum semua lisensi dasar tersedia.


3. Politeknik Negeri Malang (Polinema) memang menyediakan program dengan basic certificate (lisensi dasar) di bidang pemeliharaan pesawat udara:

  • Dalam kelas kerja sama Polinema dengan PT GMF AeroAsia, terdapat program Diploma III Teknik Mesin konsentrasi “Perawatan Pesawat Udara”. (Polinema)

  • Lulusan program kerjasama ini akan memperoleh “Basic Certificate” sesuai CASR‐65 (Certificate sesuai regulasi perawatan pesawat) selain ijazah D-III. (kelsawojajar.malangkota.go.id)

  • Menurut laman Direktorat Vokasi, Polinema disebut sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi yang “dapat menerbitkan dua jenis Basic License” bagi mahasiswa perawatan pesawat. (Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi)

Catatan penting: Dokumen publik Polinema tidak menjelaskan secara rinci “A-license (A1, A4)” atau “C-license (C1–C4)” secara spesifik seperti AMTO-147; mereka menyebut “Basic Aircraft Maintenance (BAM)” dengan referensi CASR-65, yang mungkin sedikit berbeda dari lisensi AMTO 147 (tergantung konteks regulasi).

Saya tidak menemukan sumber tepercaya yang menyatakan bahwa Politeknik Negeri Malang (Polinema) memiliki AMTO dengan lisensi A1 / A4 / C-license (C1-C4) yang diakui DKPPU seperti AMTO 147. Berikut rangkuman dari hasil pengecekan + analisis:

🔍 Hasil Cek Polinema Malang

  1. Program Kelas Kerja Sama GMF

    • Polinema punya kelas kerjasama dengan PT GMF AeroAsia untuk program D-III Teknik Mesin, konsentrasi Perawatan Pesawat Udara. (Polinema)

    • Lulusan program ini mendapat:

    • CASR-65 adalah regulasi keselamatan penerbangan sipil, tetapi ini berbeda dengan AMTO-147 (lisensi teknisi); “BAM Certificate sesuai CASR-65” bukan necessarily “Basic License A/C AMTO-147”.

  2. Dokumen Pendaftaran Mahasiswa

    • Di pengumuman pendaftaran Polinema untuk D-III Teknologi Pemeliharaan Pesawat Udara, disebut Basic Certificate sesuai CASR 65. (kelsawojajar.malangkota.go.id)

    • Tidak disebut spesifik “A1, A4, C1, C2, C4” di pengumuman tersebut.

  3. Laporan GMF AeroAsia

    • GMF (mitra Polinema) memiliki AMTO 147 (AMTO-147) dan menyatakan bahwa AMTO-147 mereka mengeluarkan “Basic License seperti C1, C2, C4, A1 dan A4” dalam laporan tahunan lama.

    • Namun, keberadaan AMTO-147 di GMF tidak langsung berarti semua lembaga partner (seperti Polinema) bisa mengeluarkan semua lisensi ini di bawah nama AMTO mereka sendiri — tergantung perizinan AMTO lembaga / remote AMTO.

✅ Kesimpulan

  • Polinema menyediakan basic certificate melalui program D-III dengan GMF, tetapi sertifikat tersebut adalah “Basic Aircraft Maintenance (BAM)” sesuai CASR-65, bukan lisensi AMTO-147 yang secara spesifik menyebut A1/A4 atau C-license.

  • Saya tidak menemukan bukti kuat bahwa Polinema adalah AMTO independen dengan izin 147D yang mengeluarkan lisensi A1, A4, C1–C4.

  • Karena itu, jika tujuanmu adalah mendapatkan lisensi teknisi AMTO (A-license / C-license), Polinema mungkin bukan pilihan AMTO yang lengkap seperti beberapa politeknik AMTO lain.


Saya cek sejumlah sumber, dan tidak menemukan bukti kuat bahwa Polinema (Politeknik Negeri Malang) saat ini memiliki AMTO 147 penuh dengan lisensi A1-A4 dan C1-C4 yang disetujui DGCA (DKPPU). Berikut analisis lebih rinci:

Hasil Cek untuk Polinema (Jawa Timur)

  1. Program Studi D-III Teknologi Pemeliharaan Pesawat Udara (TPPU)

    • Polinema punya prodi D-III Pemeliharaan Pesawat Udara. (Polinema)

    • Di deskripsi prodi disebut sebagai kompetensi lulusannya “teknisi pesawat udara berlisensi A1, A4 dan C1, C2, C4”. (Polinema)

    • Jadi, di kurikulum Polinema memang mereka menyatakan kemampuan lisensi teknisi basic (A1, A4, C1, C2, C4).

  2. Kerja Sama AMTO dengan GMF

    • Ada bukti bahwa Polinema terlibat dalam “kelas AMTO 147 PT. GMF AeroAsia” untuk prodi TPPU-nya. (Facebook)

    • Itu berarti beberapa batch pelatihan teknisi menggunakan AMTO 147 GMF.

  3. Tidak Ditemukan Sertifikat AMTO Sendiri

    • Saya tidak menemukan dokumen resmi (misalnya “Certificate AMTO Polinema 147D-xx”) yang menunjukkan bahwa Polinema adalah AMTO independen dengan nomor approval 147D sendiri (mirip dengan Polban, Polibatam, dsb).

    • Di situs AMTO formal atau publikasi DKPPU / Kemenhub, Polinema tidak secara jelas muncul sebagai AMTO 147 dengan opsesifikasi rating A & C.

Kesimpulan Sementara

  • Polinema memiliki program TPPU dimana lulusannya “berkompetensi teknisi berlisensi A1, A4, C1, C2, C4” menurut prodi.

  • Mereka menggunakan AMTO 147 bersama GMF AeroAsia dalam pelatihan tertentu (kelas AMTO), jadi bukan berarti Polinema punya seluruh lisensi AMTO secara mandiri.

  • Karena tidak jelas bahwa Polinema memiliki Approval AMTO 147D sendiri, maka untuk mencari AMTO yang benar-benar “lisensi penuh A- dan C-license” mungkin lebih aman memilih AMTO yang diketahui punya sertifikat resmi, seperti Poltekbang, Polibatam, Polban, dsb.


Artikel diambil dari berbagai sumber, untuk lebih jelasnya, blogger bisa membuka situs resmi instansi tersebut. 
Merci ... 


Basic Skill - Aircraft Tools

AIRCRAFT TOOLS – Materi Basic Skill / Dasar Kejuruan

Peralatan pesawat udara (Aircraft Tools) adalah alat–alat dasar yang digunakan teknisi untuk melakukan pekerjaan perawatan, perbaikan, inspeksi, dan instalasi pada struktur serta sistem pesawat. Pemahaman alat ini sangat penting sebagai kompetensi dasar bagi siswa Teknik Pesawat Udara.

 

1. Screwdrivers (Obeng)

Fungsi : Untuk mengencangkan atau mengendurkan baut/skrip dengan jenis kepala tertentu.

Jenis–jenis Obeng :



  • Flathead/Slotted Screwdriver → kepala datar
  • Phillips/Crosshead Screwdriver → berbentuk tanda plus (+)
  • Torx Screwdriver → berbentuk bintang
  • Offset Screwdriver → untuk ruang sempit

  • gambar : offset screwdriver

Cara Penggunaan

  1. Pilih obeng yang sesuai dengan jenis dan ukuran kepala sekrup.
  2. Tempelkan ujung obeng pada kepala sekrup.
  3. Tekan sedikit kemudian putar searah jarum jam untuk mengencangkan, dan sebaliknya untuk melepas.

Digunakan Untuk : 

  • Membuka atau memasang panel
  • Perakitan komponen avionik
  • Perawatan interior pesawat

 

2. Wrenches (Kunci)

Fungsi : Untuk mengencangkan atau melepas mur dan baut dengan ukuran tertentu.

Jenis–jenis:


source : https://www.instagram.com/p/DGQhVIHMj6v/


  • Open-End Wrench → rahang terbuka
  • Box-End Wrench → rahang tertutup
  • Combination Wrench → satu sisi open, satu sisi box
  • Adjustable Wrench (Kunci Inggris) → rahang bisa diatur
  • Torque Wrench → mengukur torsi pengencangan

Cara Penggunaan

  1. Pilih ukuran kunci yang sesuai.
  2. Pasangkan kunci pada mur/baut.
  3. Putar hingga mur mengencang atau mengendur.
  4. Jika menggunakan torque wrench, sesuaikan nilai torsi sesuai manual pesawat (AMM).

Digunakan Untuk

  • Instalasi pipa hidrolik
  • Pemasangan mounting engine
  • Perbaikan landing gear

3. Pliers (Tang)

Fungsi : Untuk memegang, memotong, membengkokkan, atau menarik material.

Jenis–jenis:


  • Slip-Joint Pliers → serbaguna 




  • Needle-Nose Pliers → menjangkau tempat sempit



  • Diagonal Cutting Pliers → memotong kabel




  • Safety Wire Pliers → memasang safety wire



Cara Penggunaan

  1. Pilih tang sesuai fungsi.
  2. Jepit material atau kawat dengan rahang.
  3. Lakukan penekanan atau pemotongan sesuai kebutuhan.

Digunakan Untuk

  • Memotong kabel
  • Memasang safety wire pada komponen vital
  • Menjepit bagian kecil dalam sistem pesawat

 

4. Hammers (Palu)

Fungsi : Memberikan pukulan untuk membentuk, meratakan, atau memasang komponen.

Jenis–jenis:

  • Ball-Peen Hammer → untuk pekerjaan logam

  • Soft-Face Hammer → permukaan lunak agar tidak merusak komponen




  • Plastic Mallet → bekerja pada material komposit



  • Rubber Mallet → untuk berbagai tugas yang memerlukan gaya pukul yang lembut dan tidak merusak. Fungsi utamanya adalah memberikan dampak tanpa meninggalkan bekas, penyok, atau goresan pada permukaan yang halus atau rentan, berbeda dengan palu logam keras 

Cara Penggunaan
  1. Pegang gagang palu dengan kuat.
  2. Arahkan pukulan ke objek dengan kontrol yang baik.
  3. Gunakan soft-face untuk material sensitif seperti aluminium pesawat.

Digunakan Untuk

  • Riveting
  • Sheet metal forming
  • Mengatur posisi komponen ringan

 

5. Measuring Tools (Alat Ukur)

Fungsi : Mengukur dimensi, jarak, ketebalan, atau kelurusan komponen pesawat.

Jenis–jenis:

  • Steel Rule


  • Vernier Caliper/Sigmat/Jangka Sorong


  • Micrometer


  • Feeler Gauge


  • Depth Gauge


Cara Penggunaan

  • Sesuaikan alat dengan kebutuhan pengukuran
  • Pastikan alat bersih
  • Tempelkan permukaan ukur dengan benar
  • Baca hasil sesuai skala

Digunakan Untuk

  • Mengukur ketebalan skin
  • Mengukur clearance dan toleransi
  • Memeriksa panjang baut atau komponen mesin

 

6. Safety Wire Tools

Fungsi : Mengunci komponen vital agar tidak kendor akibat getaran.

Jenis–jenis:

  • Safety Wire Plier
  • Safety Wire
  • Safety Wire Cutter

Cara Penggunaan

  1. Masukkan kawat ke lubang mur atau baut.
  2. Putar menggunakan safety wire plier.
  3. Potong sisa kawat dengan rapi.

Digunakan Untuk

  • Mengunci nut pada engine mount
  • Mengamankan baut pada sistem bahan bakar dan oli

 

7. Riveting Tools

Fungsi : Untuk memasang rivet pada struktur pesawat.

Jenis–jenis:

  • Rivet Gun
  • Bucking Bar
  • Hand Riveter
  • Dimple Tool / Rivet Squeezer

Cara Penggunaan

  1. Tempatkan rivet pada lubang panel.
  2. Tahan bucking bar di belakang rivet.
  3. Tekan rivet gun hingga rivet terpasang sempurna.

Digunakan Untuk

  • Perbaikan skin pesawat
  • Pemasangan panel aluminium
  • Struktur fuselage dan wing

 

8. Cutting Tools

Fungsi : Memotong material seperti aluminium, karet, plastik, atau kabel.

Jenis–jenis:

  • Hacksaw
  • Aviation Snips (left, right, straight cut)
  • Utility Knife
  • Tubing Cutter

Cara Penggunaan

  • Sesuaikan alat dengan jenis material
  • Ikuti garis potong
  • Gunakan APD: sarung tangan, kacamata

Digunakan Untuk

  • Pemotongan lembaran aluminium
  • Pemotongan pipa bahan bakar/hidrolik
  • Pemotongan isolasi kabel

 

9. Files & Deburring Tools

Fungsi : Meratakan, menghaluskan, atau menghilangkan burr setelah pemotongan.

Cara Penggunaan

  • Pegang file dengan kedua tangan
  • Gerakkan maju–mundur secara teratur
  • Deburring tool diputar mengikuti tepi lubang

Digunakan Untuk

  • Menghaluskan tepi panel
  • Membersihkan lubang rivet
  • Finishing perbaikan sheet metal

 

10. Special Aviation Tools

Berbagai alat khusus penerbangan, seperti:

  • Borescope → inspeksi ruang sempit (turbin, ducting)
  • Torque Wrench → pengencangan dengan torsi tertentu
  • Crimping Tool → memasang konektor listrik
  • Multimeter → mengecek tegangan, resistansi, arus
11. 



Alhamdulillah....


 

Sabtu, 20 September 2025

SMK Bisa! Siswa SMKN 29 Jakarta Rakitan Pesawat Ringan Jabiru J430

 




SMK Bisa! Siswa SMKN 29 Jakarta Rakitan Pesawat Ringan Jabiru J430

SMKN 29 Jakarta, salah satu sekolah vokasi penerbangan terbaik di Indonesia, mencetak sejarah dengan keberhasilan merakit pesawat ringan Jabiru J430. Proyek ambisius ini menghasilkan sebuah pesawat yang diberi nama Swayasa, menjadi simbol kemampuan siswa SMK dalam dunia kedirgantaraan.

Sejarah Awal Perakitan Pesawat Jabiru J430 di SMKN 29 Jakarta

Pada akhir 2011 dan awal 2012, SMKN 29 Penerbangan (Kebayoran Baru, Jakarta) melaksanakan proyek perakitan pesawat ringan Jabiru J430 bersama siswa dan guru program keahlian penerbangan. Proyek ini menjadi salah satu momen penting dalam upaya menguatkan praktik vokasi di bidang aviasi: bukan hanya sekadar teori kelas, namun praktik nyata merakit pesawat dari komponen-komponen kit yang dikirim dari pabrikan.

Pesawat Jabiru J430 merupakan pesawat ringan asal Australia yang dirancang untuk kebutuhan pendidikan dan penerbangan umum. SMKN 29 Jakarta mendapat kesempatan istimewa untuk merakit pesawat ini sebagai bagian dari program penguatan pendidikan vokasi. Proyek ini dimulai sejak kedatangan kit pesawat di hanggar sekolah, disambut dengan semangat oleh guru, siswa, dan pihak industri penerbangan. [1]


Awal inisiatif dan kedatangan komponen

Menurut liputan dan catatan yang beredar, komponen-komponen utama Jabiru J430 tiba di SMKN 29 pada sekitar Agustus 2011. Setelah komponen lengkap datang, sekolah menyiapkan ruang perakitan khusus dan memulai proses perakitan yang melibatkan siswa-siswa jurusan penerbangan di bawah pengawasan guru dan teknisi pembimbing. Sekolah memberi nama pesawat hasil rakitan itu “Swayasa”, yang bermakna karya rakitan sendiri. [2]


Tim perakitan dan tujuan pendidikan

Perakitan melibatkan puluhan hingga ratusan siswa selama beberapa bulan — sebagai bagian aplikasi mata pelajaran praktik keahlian. Proyek ini bertujuan ganda: (1) memberikan pengalaman langsung tentang konstruksi dan sistem pesawat (struktur komposit, pemasangan mesin, sistem kontrol dan avionik dasar), dan (2) menumbuhkan kapabilitas sekolah untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja di industri penerbangan. Liputan foto memperlihatkan siswa bekerja di hangar/perakitan dengan pengawasan guru.

Tentang pesawat: Jabiru J430 (sedikit teknis)

Jabiru J430 adalah salah satu model light aircraft buatan Jabiru (Australia) — desain kit/composite, high-wing, empat tempat duduk, dan umumnya menggunakan mesin Jabiru 3300 (6-silinder) ~120 hp. Model ini banyak dipasarkan sebagai kit bagi klub, sekolah, atau perakit independen; estimasi waktu bangun dari kit pabrikan dilaporkan ratusan jam kerja. Spesifikasi umum dan karakteristik terbang J430 tercatat di dokumen pabrikan dan publikasi aviasi. [3]  


Proses teknis & tahapan perakitan

Berdasarkan foto dan laporan, tahapan perakitan di SMKN 29 meliputi:

  1. Persiapan dan pemeriksaan komponen kit (fuselage, sayap, empennage, komponen kontrol). Tempo Data

  2. Perakitan struktur komposit dan sambungan utama; pemasangan sistem kontrol permukaan (kabel/rod/hinge). Antara News

  3. Pemasangan mesin, instalasi bahan bakar, saluran kontrol, dan panel instrumen dasar. Antara News

  4. Uji kebocoran, pengecekan keselarasan permukaan kontrol, dan pemeriksaan pra-penerbangan (ground testing). Laporan populer menyinggung bahwa meskipun perakitan selesai, izin terbang dan proses sertifikasi menghadapi hambatan birokrasi. Blog Pendidik+1


Proses Perakitan Pesawat: Dari Kit Hingga Swayasa

Kedatangan Kit Jabiru J430 ke SMKN 29 Jakarta

Kit pesawat tiba dalam bentuk komponen yang harus dirakit secara teliti. Setiap bagian—mulai dari sayap, fuselage, hingga tail section—diperiksa dan disiapkan untuk tahap perakitan.

Tahapan Perakitan Struktur Pesawat

Siswa jurusan Teknik Pesawat Udara (TPU) dilibatkan langsung dalam proses perakitan struktur. Mereka belajar menggabungkan komponen pesawat sesuai standar industri kedirgantaraan.

Pemasangan Sistem Mesin dan Avionik

Setelah struktur utama selesai, tahap berikutnya adalah pemasangan mesin dan sistem avionik. Proses ini menuntut ketelitian tinggi karena menyangkut keselamatan dan kinerja pesawat.

Uji Fungsi dan Ground Run Pesawat Swayasa

Sebelum siap terbang, pesawat menjalani ground run test untuk memastikan sistem mesin, kontrol, dan avionik bekerja dengan baik.

Peran Guru dan Siswa dalam Proyek Perakitan Pesawat

Guru bertindak sebagai pembimbing teknis, sementara siswa menjadi pelaku utama di lapangan. Kolaborasi ini menjadikan proyek perakitan Jabiru J430 bukan hanya sebuah pembelajaran, melainkan juga pengalaman nyata dunia kerja.

Tantangan dan Solusi Saat Merakit Pesawat Jabiru J430

Dalam proses perakitan, tim menghadapi berbagai tantangan: mulai dari menyesuaikan komponen, keterbatasan fasilitas, hingga kebutuhan ketelitian ekstra. Namun, dengan semangat gotong royong dan bimbingan guru, semua hambatan dapat teratasi.

Prestasi dan Pengakuan untuk SMKN 29 Jakarta

Keberhasilan merakit pesawat Swayasa membawa kebanggaan besar bagi SMKN 29 Jakarta. Pesawat ini menjadi bukti nyata bahwa siswa SMK mampu menghasilkan karya yang diakui secara nasional, bahkan berpotensi mendunia.

Makna dan Manfaat Proyek Swayasa bagi Dunia Pendidikan Vokasi

Proyek ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi di Indonesia dapat menghasilkan karya nyata. Swayasa bukan hanya pesawat, melainkan simbol “SMK Bisa!” yang menginspirasi banyak generasi muda untuk terus berkarya di bidang penerbangan dan teknologi.

✈️ Dengan adanya proyek ini, SMKN 29 Jakarta menegaskan diri sebagai sekolah kejuruan yang tidak hanya mendidik, tetapi juga melahirkan karya monumental bagi dunia kedirgantaraan.

Tantangan non-teknis: perizinan dan birokrasi

Beberapa tulisan lokal menyebutkan bahwa kendala utama setelah perakitan bukan hanya masalah teknis, melainkan proses perizinan terbang (sertifikasi/izin udara) yang rumit dan memakan waktu. Hal ini umum terjadi untuk pesawat rakitan sekolah karena harus memenuhi persyaratan otoritas penerbangan sebelum terbang komersial atau demonstrasi publik. Akibatnya, meskipun pesawat telah selesai dirakit dan bahkan dipamerkan, proses formal untuk mendapatkan izin terbang menjadi hambatan. Blog Pendidik+1


Pameran, demonstrasi, dan dampak publikasi

Pesawat hasil perakitan SMKN 29 pernah dipamerkan dalam beberapa kegiatan seperti pameran pendidikan dan event publik (contoh: Jakarta Fair disebut-sebut dalam arsip foto dan pos komunitas). Liputan media cetak/online dan foto berita (antaranews, tempo, arsip blog/unggahan) memberi sorotan positif terhadap upaya sekolah dan menempatkan SMKN 29 sebagai contoh program vokasi yang aplikatif. Antara News+2Tempo Data+2


Warisan pendidikan dan pelajaran yang dipetik

Proyek perakitan Jabiru J430 di SMKN 29 menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  • Pendidikan vokasi efektif bila terhubung langsung ke proyek dunia nyata (real project-based learning). Blog Pendidik

  • Kolaborasi antara pabrikan (penyedia kit), sekolah, dan otoritas diperlukan agar hasil perakitan juga bisa digunakan secara fungsional (mis. terbang/sertifikasi). jabiru.aero+1

  • Dokumentasi, manajemen proyek, dan kepatuhan regulasi adalah keterampilan penting yang harus diajarkan bersamaan dengan keterampilan teknis. Antara News


Penutup

Perakitan Jabiru J430 oleh SMKN 29 bukan sekadar pembangunan satu pesawat, melainkan bukti bahwa pendidikan menengah kejuruan bisa melaksanakan proyek teknis skala besar yang memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik. Meski ada tantangan—termasuk administratif dan sertifikasi—proyek ini tetap menjadi catatan prestasi vokasi aviasi di Indonesia dan sumber inspirasi bagi SMK lain yang ingin mengembangkan program serupa. Tempo Data+2Antara News+2




Sumber : 

[1] https://data.tempo.co/foto/detail/P3110201100133/siswa-smkn-29-merakit-pesawat-jabiru-j430-buatan-australia?utm_source

[2] https://indonesiaproud.wordpress.com/2011/11/10/swayasa-jabiru-j430-pesawat-terbang-rakitan-smkn-29-jakarta/?utm_source

[3] https://jabiru.aero/j230-j430/?utm_source


Minggu, 14 September 2025

COMPOSITE

 

Komposit 

Bahan Bacaan 

1. Karakteristik Komposit 

    Bahan non logam ternyata juga banyak digunakan sebagai bahan untuk membuat konstruksi pesawat udara. Salah satu            bahan non logam tersebut yaitu komposit. Komposit merupakan bahan paduan atau campuran beberapa bahan kimia            (bahan komposit) yang bereaksi dan mengeras dalam waktu tertentu. Bahan ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan        bahan logam, diantaranya : lebih ringan, lebih mudah dibentuk, dan lebih murah. 

    Pemanfaatan komposit untuk produk komponen pesawat terbang saat ini sangat luas. Selain anti karat, juga lebih tahan benturan,     mudah dibentuk, bila rusak akan lebih mudah diperbaiki, dan lebih ringan. Dengan bahan komposit, pesawat udara            dimungkinkan akan lebih hemat konsumsi bahan bakarnya. Gambar  berikut ini memperlihatkan salah satu pemanfaatan bahan            komposit untuk pembuatan komponen pesawat udara.


Gambar 4. 1 Komponen yang terbuat dari bahan komposit


Untuk sektor industri komponen, pemanfaatan bahan komposit juga sudah cukup meluas. Pabrikan pesawat udara sudah memanfaatkannya untuk membuat komponen-komponen tertentu. Radome, engine cowling, fairing, ruder, elevator, aileron dan bagian lain seperti interior dan floor pada pesawat udara sudah dimanfaatkan oleh pabrikan untuk dibuat dari bahan komposit. Malahan untuk pembuatan pesawat berbadan kecil bahan materialnya sudah full composite.

4.2. Jenis komposit

Pengertian bahan komposit berarti terdiri dari dua atau lebih bahan yang berbeda yang digabung atau dicampur secara makroskopis menjadi suatu bahan yang berguna (Jones, 1975). Bahan komposit secara umum terdiri dari penguat dan matrik. Penguat komposit pada umumnya mempunyai sifat kurang ulet tetapi lebih kaku serta lebih kuat. Fungsi utama dari penguat adalah sebagai penopang kekuatan dari komposit, sehingga tinggi rendahnya kekuatan komposit sangat tergantung dari penguat yang digunakan, karena tegangan yang dikenakan pada komposit mulanya diterima oleh matrik akan diteruskan kepada penguat, sehingga penguat akan menahan beban sampai beban maksimum. Oleh karena itu penguat harus mempunyai tegangan tarik dan modulus elastisitas yang lebih tinggi daripada matrik penyusun komposit

Matriks adalah fasa dalam komposit yang mempunyai bagian atau fraksi volume terbesar (dominan). Matrik, umumnya lebih ulet tetapi mempunyai kekuatan dan kekakuan yang lebih rendah.

Matriks mempunyai fungsi sebagai berikut :

·         Mentransfer tegangan ke serat.

·         Membentuk ikatan koheren, permukaan matrik/serat.

·         Melindungi serat.

·         Memisahkan serat.

·         Melepas ikatan.

·         Tetap stabil setelah proses manufaktur.


4.3. Komposit Serat

Komposit serat mempunyai banyak keunggulan, sehingga paling banyak dipakai bahan produk.Bahan komposit serat terdiri dari dua macam, yaitu serat panjang (continuos fiber) dan serat pendek (short fiber atau whisker). Penggunaan bahan komposit serat efisien dalam menerima beban dan gaya. apabila dibebani serat searah sangat kuat, sebaliknya sangat lemah jika dibebani dalam arah tegak lurus serat (Hadi 2000).

 

        4.4. Komposit Sandwich

Komposit sandwich adalah jenis komposit yang terdiri dari material inti (core) yang diapit oleh kedua permukaan kulitnya (skin). Komposit  sandwich dibuat untuk mendapatkan sebuah bahan yang kaku dengan berat ringan dan harga lebih ekonomis. Teknologi ini merupakan alternative lebih baik daripada solid laminate.

·         Kekakuan/stiffnes diperoleh dengan melapisi core menggunakan serat fiber dan resin.

·         Berat yang ringan diperoleh dengan menggunakan low density core.

·         Harga yang ekonomis diperoleh dengan menggunakan core yang lebih murah dan pengerjaan yang lebih sederhana.

Industri penerbangan adalah pasar terbesar untuk produk core. Mereka menggunakan core kualitas baik yaitu alumunium dan aramid honeycomb sebagai core untuk struktur primer pesawat, interior panel, dan lantai. Disisi lain honeycombs, Foam, dan kayu balsa menjadi pilihan core untuk industri maritim, kincir Pembangkit Listrik Tenaga Angin, dan industri transportasi. Selain density yang ringan dan harga relative lebih murah, jenis core ini memberikan hasil sandwich composite yang mengagumkan setelah dilapis dengan serat fiber dan resin. Hal tersebutlah yang membuat industri non-penerbangan memilih jenis core ini, yaitu stiffness/kekakuan dan berat yang ringan.    

Pertimbangan untuk memilih core harus dipadukan dengan jenis skin dan adhesive yang akan dipakai sehingga memberikan hasil yang sesuai dengan harapan.

 



 

 

 

4.5.             Honeycomb

Honey comb adalah pilihan yang paling banyak digunakan pada bidang kedirgantaraan. Dengan daya geser dan daya kompresi yang lebih rendah dibanding Foam dan balsa core, Honey comb dengan struktur hollow berbentuk hexagonal seperti sarang lebah memiliki density lebih rendah, sehingga lebih menghemat berat. Selain itu kemampuannya menyerap suara bising dari engine pesawat udara.

 


Gambar 4.4. Honeycomb



Dalam perawatan, material Honey comb lebih sulit dibanding Foam atau Balsa dan resistensi sekrup yang tidak baik.

 

Bahan Bacaan 2

4.6. Bahan Penyusun Komposit

4.6.1.        Resin

Resin terdiri dari resin epoxy, resin polyesther, dan resin vinil. Resin epoxy merupakan jenis resin thermoset dan berfungsi sebagai matrik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Resin polyesther berfungsi sebagai matrik dalam struktur komposit tetapi juga sebagai perekat pada lamina. Resin ini terbentuk dari reaksi antara dipolyalcohol dan asam polibasa (Glen A. Rowland 2009).

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Keunggulan dari resin ini adalah pengerjaan mudah, proses pengerasan/curing cepat tanpa menimbulkan gas, warnanya terang, dimensinya stabil dan memiliki sifat fisis serta tahanan listrik yang baik.

4.6.2.       Serat

Merupakan bahan penyusun komposit yang berupa anyaman mirip kain dan terdiri dari beberapa model, dari model anyaman halus sampai dengan anyaman yang kasar atau besar dan jarang-jarang. Berfungsi sebagai pelapis campuran adonan dasar komposit, sehingga sewaktu unsur kimia tersebut bersenyawa dan  mengeras,  serat berfungsi sebagai  pengikatnya..

Nylon

Woven roving

Carbon

Kevlar

 

 

 

 

 

 

 


                                                           

 

 

 

 

 


                                                                                               

 

4.6.3.        PVA

Bahan ini berupa cairan kimia berkelir biru menyerupai spiritus. Berfungsi untuk melapis antara cetakan dengan bahan komposit. Tujuannya adalah agar kedua bahan tersebut tidak saling menempel, sehingga komposit hasil cetakan dapat dilepas dengan mudah dari cetakannya

 

 

 

 

 

 

 


.

 

 

 

 

 


4.6.4.         Mirror

Sesuai namanya, manfaatnya hampir sama dengan PVA, yaitu menimbulkan efek licin. Bahan ini berwujud pasta dan mempunyai warna bermacam-macam.

 

 

 

 

 

 

 

 


4.6.5.        Erosil

Bahan ini berbentuk bubuk sangat halus seperti bedak bayi berwama putih. Berfungsi sebagai perekat serat agar komposit menjadi kuat dan tidak mudah patah/pecah.

 

 

 

 

 

 

 


4.6.6.        Katalis/hardener

Zat ini berwarna bening dan berfungsi sebagai pengencer. Zat kimia ini biasanya satu set bersamaan dengan resin. Untuk jenis resin epoxy perbandingan antara resin dengan hardener adalah 1:1 sampai 2:1 Sementara untuk resin polyesther perbandingan antara resin dengan katalis adalah resin 20: 1.

 

 

 

 

 

 


Bahan Bacaan 3

4.7. Metoda Pembuatan Komposit

Secara Garis besar metoda pembuatan material komposit terdiri dari atas dua cara,yaitu :

1.       Proses Cetakan Terbuka (Open-Mold Process)

2.       Proses Cetakan Tertutup (Closed mold Processes)

 

 

4.8. Dasar –Dasar Pembuatan Komposit

Sebagai gambaran misalnya Peserta akan membuat sebuah komposit laminat dengan 8 lapisan serat (arah lapisan serat dibuat dengan sudut 00,+450,-450, 900,900,-450, +450,00dengan teknik hand lay up seperti gambar di bawah ini.

Gambar 4. 3 Lembaran komposit laminat berbagai posisi

 

 

 

 

 

 

 


Proses  membuat campurannya  adalah  sebagai berikut :

1.       Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan lembaran komposit sebanyak dua lapis ;

2.       Pembuatan lembaran komposit diawali dengan mengoleskan mold release mirror glaze dan PVA ke permukaan cetakan agar mudah dalam mengambil hasil cetakan.

3.       Satu anyaman serat jenis woven roving  ditata dalam cetakan pada posisi 00;

4.       Siapkan sejumlah resin jenis polyesther  240 ml, campur dengan hardener dengan perbandingan 20:1 aduk sampai rata kemudian oleskan adonan tersebut ke atas permukaan serat pada cetakan;

5.       Lapisan serat berikutnya ditata di atas lapisan yang ke dua dengan posisi serat +450 dan kemudian oleskan dengan adonan hardener polyesther;

6.       Pastikan di atas permukaan serat yang diolesi hardener polyesther tidak ada buble karna buble tersebut dapat mengakibatkan komposit menjadi keropos.

7.       Demikian juga pada lapisan selanjutnya sampai jumlah lapisan sesuai dengan yang direncanakan;

8.       Kemudian tunggu sampai kering. Setelah kering lepaskan komposit tersebut dari cetakan. Hasilnya seperti gambar dibawah ini

 

 

Gambar 4. 4 Komposit laminat

 

 

 

 

 

 

 

 

 


4.9.  Proses Perbaikan Komposit

Secara umum diberikan langkah-langkah dalam proses perbaikan kerusakan pada komposit sesuai dengan struktur repair manual (SRM). Kerusakan ini membutuhkan penggantian dan perbaikan untuk satu atau kedua permukaannya

Langkah 1 : Periksa Kerusakan

Gambar 4. 5 Tap testing technique

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 2 : Bersihkan air di area yang rusak


 

 
 
  
  
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 
  
  

7-35

 

Langkah 3 : Hilangkan bagian yang rusak

Gambar 4. 18 Core damage removal

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 4 : Siapkan Area Rusak

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 5: Instalasi Honeycomb Inti (Wet layup)

Gunakan pisau untuk memotong pengganti inti. Bahan pengganti inti harus dari jenis yang sama. Arah sel inti harus berbaris dengan sisir madu dari bahan sekitarnya. Steker harus dipangkas dengan panjang yang tepat dan akan pelarut dicuci dengan bersih disetujui.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 6 Core replacement

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 6 : Menyiapkan dan instalasi lembaran perbaikan

Konsultasikan manual perbaikan untuk bahan perbaikan yang benar dan jumlah lapisan yang dibutuhkan untuk perbaikan . Biasanya, satu lapis lebih dari jumlah asli dari lapisan diinstal . Potong lapisan dengan ukuran dan orientasi lapisan yang benar. Perbaikan lapisan harus diinstal dengan orientasi yang sama seperti lapisan asli yang sedang diperbaiki. Oleskan  lapisan dengan resin dengan teknik layup wet, atau menghapus bahan backing dari bahan prepreg. Lapisan biasanya ditempatkan menggunakan urutan lapisan layup pertama terkecil.

Langkah 7 : Perbaikan dengan Vacuum Bag

Setelah bahan lapisan berada di tempat, gunakan vakum untuk membuang udara dan untuk menekan pada proses pengeringan. Seperti terlihat pada Lihat Gambar 4.21.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 7 Perbaikan dengan Teknik Vakum bagg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 8 : Pengeringan

Pengeringan pada proses perbaikan pada siklus pengeringan yang diperlukan.Teknik layup wet dapat dikeringkan pada suhu kamar . Suhu tinggi hingga 150 ° F dapat digunakan untuk me percepat pengeringan. Bagian yang bisa dilepas dari pesawat bisa dikeringkan di ruang panas, oven.

Proses perbaikan harus bebas dari lubang, lecet, resin berlebih dan kurang resin. Pengamplasan ringan dilakukan untuk menghasilkan permukaan halus tanpa merusak serat. Terapkan lapisan konduktif( perlindungan terhadap pencahayaan).

 

Langkah 9 : Perbaikan Inspeksi akhir

Gunakan visual, tekan, dan / atau inspeksi ultrasonik untuk memeriksa perbaikan. Lepaskan kembali perbaikan jika cacat ditemukan. [ Gambar 5-26 ]

Kegagalan dalam proses perbaikan dapat mengakibatkan kontrol penerbangan bergetar , dan keselamatan penerbangan bisa terpengaruh .

 

 

 

 

Gambar 4. 8 Inspeksi akhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tugas Maintenance Practice : Composite

  Tugas Maintenance Practice :  Mengerjakan Soal Esai  Jelaskan pengertian material komposit dan sebutkan mengapa material ini banyak di...