Pengikut

Sabtu, 20 September 2025

SMK Bisa! Siswa SMKN 29 Jakarta Rakitan Pesawat Ringan Jabiru J430

 




SMK Bisa! Siswa SMKN 29 Jakarta Rakitan Pesawat Ringan Jabiru J430

SMKN 29 Jakarta, salah satu sekolah vokasi penerbangan terbaik di Indonesia, mencetak sejarah dengan keberhasilan merakit pesawat ringan Jabiru J430. Proyek ambisius ini menghasilkan sebuah pesawat yang diberi nama Swayasa, menjadi simbol kemampuan siswa SMK dalam dunia kedirgantaraan.

Sejarah Awal Perakitan Pesawat Jabiru J430 di SMKN 29 Jakarta

Pada akhir 2011 dan awal 2012, SMKN 29 Penerbangan (Kebayoran Baru, Jakarta) melaksanakan proyek perakitan pesawat ringan Jabiru J430 bersama siswa dan guru program keahlian penerbangan. Proyek ini menjadi salah satu momen penting dalam upaya menguatkan praktik vokasi di bidang aviasi: bukan hanya sekadar teori kelas, namun praktik nyata merakit pesawat dari komponen-komponen kit yang dikirim dari pabrikan.

Pesawat Jabiru J430 merupakan pesawat ringan asal Australia yang dirancang untuk kebutuhan pendidikan dan penerbangan umum. SMKN 29 Jakarta mendapat kesempatan istimewa untuk merakit pesawat ini sebagai bagian dari program penguatan pendidikan vokasi. Proyek ini dimulai sejak kedatangan kit pesawat di hanggar sekolah, disambut dengan semangat oleh guru, siswa, dan pihak industri penerbangan. [1]


Awal inisiatif dan kedatangan komponen

Menurut liputan dan catatan yang beredar, komponen-komponen utama Jabiru J430 tiba di SMKN 29 pada sekitar Agustus 2011. Setelah komponen lengkap datang, sekolah menyiapkan ruang perakitan khusus dan memulai proses perakitan yang melibatkan siswa-siswa jurusan penerbangan di bawah pengawasan guru dan teknisi pembimbing. Sekolah memberi nama pesawat hasil rakitan itu “Swayasa”, yang bermakna karya rakitan sendiri. [2]


Tim perakitan dan tujuan pendidikan

Perakitan melibatkan puluhan hingga ratusan siswa selama beberapa bulan — sebagai bagian aplikasi mata pelajaran praktik keahlian. Proyek ini bertujuan ganda: (1) memberikan pengalaman langsung tentang konstruksi dan sistem pesawat (struktur komposit, pemasangan mesin, sistem kontrol dan avionik dasar), dan (2) menumbuhkan kapabilitas sekolah untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja di industri penerbangan. Liputan foto memperlihatkan siswa bekerja di hangar/perakitan dengan pengawasan guru.

Tentang pesawat: Jabiru J430 (sedikit teknis)

Jabiru J430 adalah salah satu model light aircraft buatan Jabiru (Australia) — desain kit/composite, high-wing, empat tempat duduk, dan umumnya menggunakan mesin Jabiru 3300 (6-silinder) ~120 hp. Model ini banyak dipasarkan sebagai kit bagi klub, sekolah, atau perakit independen; estimasi waktu bangun dari kit pabrikan dilaporkan ratusan jam kerja. Spesifikasi umum dan karakteristik terbang J430 tercatat di dokumen pabrikan dan publikasi aviasi. [3]  


Proses teknis & tahapan perakitan

Berdasarkan foto dan laporan, tahapan perakitan di SMKN 29 meliputi:

  1. Persiapan dan pemeriksaan komponen kit (fuselage, sayap, empennage, komponen kontrol). Tempo Data

  2. Perakitan struktur komposit dan sambungan utama; pemasangan sistem kontrol permukaan (kabel/rod/hinge). Antara News

  3. Pemasangan mesin, instalasi bahan bakar, saluran kontrol, dan panel instrumen dasar. Antara News

  4. Uji kebocoran, pengecekan keselarasan permukaan kontrol, dan pemeriksaan pra-penerbangan (ground testing). Laporan populer menyinggung bahwa meskipun perakitan selesai, izin terbang dan proses sertifikasi menghadapi hambatan birokrasi. Blog Pendidik+1


Proses Perakitan Pesawat: Dari Kit Hingga Swayasa

Kedatangan Kit Jabiru J430 ke SMKN 29 Jakarta

Kit pesawat tiba dalam bentuk komponen yang harus dirakit secara teliti. Setiap bagian—mulai dari sayap, fuselage, hingga tail section—diperiksa dan disiapkan untuk tahap perakitan.

Tahapan Perakitan Struktur Pesawat

Siswa jurusan Teknik Pesawat Udara (TPU) dilibatkan langsung dalam proses perakitan struktur. Mereka belajar menggabungkan komponen pesawat sesuai standar industri kedirgantaraan.

Pemasangan Sistem Mesin dan Avionik

Setelah struktur utama selesai, tahap berikutnya adalah pemasangan mesin dan sistem avionik. Proses ini menuntut ketelitian tinggi karena menyangkut keselamatan dan kinerja pesawat.

Uji Fungsi dan Ground Run Pesawat Swayasa

Sebelum siap terbang, pesawat menjalani ground run test untuk memastikan sistem mesin, kontrol, dan avionik bekerja dengan baik.

Peran Guru dan Siswa dalam Proyek Perakitan Pesawat

Guru bertindak sebagai pembimbing teknis, sementara siswa menjadi pelaku utama di lapangan. Kolaborasi ini menjadikan proyek perakitan Jabiru J430 bukan hanya sebuah pembelajaran, melainkan juga pengalaman nyata dunia kerja.

Tantangan dan Solusi Saat Merakit Pesawat Jabiru J430

Dalam proses perakitan, tim menghadapi berbagai tantangan: mulai dari menyesuaikan komponen, keterbatasan fasilitas, hingga kebutuhan ketelitian ekstra. Namun, dengan semangat gotong royong dan bimbingan guru, semua hambatan dapat teratasi.

Prestasi dan Pengakuan untuk SMKN 29 Jakarta

Keberhasilan merakit pesawat Swayasa membawa kebanggaan besar bagi SMKN 29 Jakarta. Pesawat ini menjadi bukti nyata bahwa siswa SMK mampu menghasilkan karya yang diakui secara nasional, bahkan berpotensi mendunia.

Makna dan Manfaat Proyek Swayasa bagi Dunia Pendidikan Vokasi

Proyek ini menunjukkan bahwa pendidikan vokasi di Indonesia dapat menghasilkan karya nyata. Swayasa bukan hanya pesawat, melainkan simbol “SMK Bisa!” yang menginspirasi banyak generasi muda untuk terus berkarya di bidang penerbangan dan teknologi.

✈️ Dengan adanya proyek ini, SMKN 29 Jakarta menegaskan diri sebagai sekolah kejuruan yang tidak hanya mendidik, tetapi juga melahirkan karya monumental bagi dunia kedirgantaraan.

Tantangan non-teknis: perizinan dan birokrasi

Beberapa tulisan lokal menyebutkan bahwa kendala utama setelah perakitan bukan hanya masalah teknis, melainkan proses perizinan terbang (sertifikasi/izin udara) yang rumit dan memakan waktu. Hal ini umum terjadi untuk pesawat rakitan sekolah karena harus memenuhi persyaratan otoritas penerbangan sebelum terbang komersial atau demonstrasi publik. Akibatnya, meskipun pesawat telah selesai dirakit dan bahkan dipamerkan, proses formal untuk mendapatkan izin terbang menjadi hambatan. Blog Pendidik+1


Pameran, demonstrasi, dan dampak publikasi

Pesawat hasil perakitan SMKN 29 pernah dipamerkan dalam beberapa kegiatan seperti pameran pendidikan dan event publik (contoh: Jakarta Fair disebut-sebut dalam arsip foto dan pos komunitas). Liputan media cetak/online dan foto berita (antaranews, tempo, arsip blog/unggahan) memberi sorotan positif terhadap upaya sekolah dan menempatkan SMKN 29 sebagai contoh program vokasi yang aplikatif. Antara News+2Tempo Data+2


Warisan pendidikan dan pelajaran yang dipetik

Proyek perakitan Jabiru J430 di SMKN 29 menunjukkan beberapa pelajaran penting:

  • Pendidikan vokasi efektif bila terhubung langsung ke proyek dunia nyata (real project-based learning). Blog Pendidik

  • Kolaborasi antara pabrikan (penyedia kit), sekolah, dan otoritas diperlukan agar hasil perakitan juga bisa digunakan secara fungsional (mis. terbang/sertifikasi). jabiru.aero+1

  • Dokumentasi, manajemen proyek, dan kepatuhan regulasi adalah keterampilan penting yang harus diajarkan bersamaan dengan keterampilan teknis. Antara News


Penutup

Perakitan Jabiru J430 oleh SMKN 29 bukan sekadar pembangunan satu pesawat, melainkan bukti bahwa pendidikan menengah kejuruan bisa melaksanakan proyek teknis skala besar yang memberikan pengalaman berharga bagi peserta didik. Meski ada tantangan—termasuk administratif dan sertifikasi—proyek ini tetap menjadi catatan prestasi vokasi aviasi di Indonesia dan sumber inspirasi bagi SMK lain yang ingin mengembangkan program serupa. Tempo Data+2Antara News+2




Sumber : 

[1] https://data.tempo.co/foto/detail/P3110201100133/siswa-smkn-29-merakit-pesawat-jabiru-j430-buatan-australia?utm_source

[2] https://indonesiaproud.wordpress.com/2011/11/10/swayasa-jabiru-j430-pesawat-terbang-rakitan-smkn-29-jakarta/?utm_source

[3] https://jabiru.aero/j230-j430/?utm_source


Minggu, 14 September 2025

COMPOSITE

 

Komposit 

Bahan Bacaan 

1. Karakteristik Komposit 

    Bahan non logam ternyata juga banyak digunakan sebagai bahan untuk membuat konstruksi pesawat udara. Salah satu            bahan non logam tersebut yaitu komposit. Komposit merupakan bahan paduan atau campuran beberapa bahan kimia            (bahan komposit) yang bereaksi dan mengeras dalam waktu tertentu. Bahan ini mempunyai beberapa keuntungan dibandingkan        bahan logam, diantaranya : lebih ringan, lebih mudah dibentuk, dan lebih murah. 

    Pemanfaatan komposit untuk produk komponen pesawat terbang saat ini sangat luas. Selain anti karat, juga lebih tahan benturan,     mudah dibentuk, bila rusak akan lebih mudah diperbaiki, dan lebih ringan. Dengan bahan komposit, pesawat udara            dimungkinkan akan lebih hemat konsumsi bahan bakarnya. Gambar  berikut ini memperlihatkan salah satu pemanfaatan bahan            komposit untuk pembuatan komponen pesawat udara.


Gambar 4. 1 Komponen yang terbuat dari bahan komposit


Untuk sektor industri komponen, pemanfaatan bahan komposit juga sudah cukup meluas. Pabrikan pesawat udara sudah memanfaatkannya untuk membuat komponen-komponen tertentu. Radome, engine cowling, fairing, ruder, elevator, aileron dan bagian lain seperti interior dan floor pada pesawat udara sudah dimanfaatkan oleh pabrikan untuk dibuat dari bahan komposit. Malahan untuk pembuatan pesawat berbadan kecil bahan materialnya sudah full composite.

4.2. Jenis komposit

Pengertian bahan komposit berarti terdiri dari dua atau lebih bahan yang berbeda yang digabung atau dicampur secara makroskopis menjadi suatu bahan yang berguna (Jones, 1975). Bahan komposit secara umum terdiri dari penguat dan matrik. Penguat komposit pada umumnya mempunyai sifat kurang ulet tetapi lebih kaku serta lebih kuat. Fungsi utama dari penguat adalah sebagai penopang kekuatan dari komposit, sehingga tinggi rendahnya kekuatan komposit sangat tergantung dari penguat yang digunakan, karena tegangan yang dikenakan pada komposit mulanya diterima oleh matrik akan diteruskan kepada penguat, sehingga penguat akan menahan beban sampai beban maksimum. Oleh karena itu penguat harus mempunyai tegangan tarik dan modulus elastisitas yang lebih tinggi daripada matrik penyusun komposit

Matriks adalah fasa dalam komposit yang mempunyai bagian atau fraksi volume terbesar (dominan). Matrik, umumnya lebih ulet tetapi mempunyai kekuatan dan kekakuan yang lebih rendah.

Matriks mempunyai fungsi sebagai berikut :

·         Mentransfer tegangan ke serat.

·         Membentuk ikatan koheren, permukaan matrik/serat.

·         Melindungi serat.

·         Memisahkan serat.

·         Melepas ikatan.

·         Tetap stabil setelah proses manufaktur.


4.3. Komposit Serat

Komposit serat mempunyai banyak keunggulan, sehingga paling banyak dipakai bahan produk.Bahan komposit serat terdiri dari dua macam, yaitu serat panjang (continuos fiber) dan serat pendek (short fiber atau whisker). Penggunaan bahan komposit serat efisien dalam menerima beban dan gaya. apabila dibebani serat searah sangat kuat, sebaliknya sangat lemah jika dibebani dalam arah tegak lurus serat (Hadi 2000).

 

        4.4. Komposit Sandwich

Komposit sandwich adalah jenis komposit yang terdiri dari material inti (core) yang diapit oleh kedua permukaan kulitnya (skin). Komposit  sandwich dibuat untuk mendapatkan sebuah bahan yang kaku dengan berat ringan dan harga lebih ekonomis. Teknologi ini merupakan alternative lebih baik daripada solid laminate.

·         Kekakuan/stiffnes diperoleh dengan melapisi core menggunakan serat fiber dan resin.

·         Berat yang ringan diperoleh dengan menggunakan low density core.

·         Harga yang ekonomis diperoleh dengan menggunakan core yang lebih murah dan pengerjaan yang lebih sederhana.

Industri penerbangan adalah pasar terbesar untuk produk core. Mereka menggunakan core kualitas baik yaitu alumunium dan aramid honeycomb sebagai core untuk struktur primer pesawat, interior panel, dan lantai. Disisi lain honeycombs, Foam, dan kayu balsa menjadi pilihan core untuk industri maritim, kincir Pembangkit Listrik Tenaga Angin, dan industri transportasi. Selain density yang ringan dan harga relative lebih murah, jenis core ini memberikan hasil sandwich composite yang mengagumkan setelah dilapis dengan serat fiber dan resin. Hal tersebutlah yang membuat industri non-penerbangan memilih jenis core ini, yaitu stiffness/kekakuan dan berat yang ringan.    

Pertimbangan untuk memilih core harus dipadukan dengan jenis skin dan adhesive yang akan dipakai sehingga memberikan hasil yang sesuai dengan harapan.

 



 

 

 

4.5.             Honeycomb

Honey comb adalah pilihan yang paling banyak digunakan pada bidang kedirgantaraan. Dengan daya geser dan daya kompresi yang lebih rendah dibanding Foam dan balsa core, Honey comb dengan struktur hollow berbentuk hexagonal seperti sarang lebah memiliki density lebih rendah, sehingga lebih menghemat berat. Selain itu kemampuannya menyerap suara bising dari engine pesawat udara.

 


Gambar 4.4. Honeycomb



Dalam perawatan, material Honey comb lebih sulit dibanding Foam atau Balsa dan resistensi sekrup yang tidak baik.

 

Bahan Bacaan 2

4.6. Bahan Penyusun Komposit

4.6.1.        Resin

Resin terdiri dari resin epoxy, resin polyesther, dan resin vinil. Resin epoxy merupakan jenis resin thermoset dan berfungsi sebagai matrik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Resin polyesther berfungsi sebagai matrik dalam struktur komposit tetapi juga sebagai perekat pada lamina. Resin ini terbentuk dari reaksi antara dipolyalcohol dan asam polibasa (Glen A. Rowland 2009).

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Keunggulan dari resin ini adalah pengerjaan mudah, proses pengerasan/curing cepat tanpa menimbulkan gas, warnanya terang, dimensinya stabil dan memiliki sifat fisis serta tahanan listrik yang baik.

4.6.2.       Serat

Merupakan bahan penyusun komposit yang berupa anyaman mirip kain dan terdiri dari beberapa model, dari model anyaman halus sampai dengan anyaman yang kasar atau besar dan jarang-jarang. Berfungsi sebagai pelapis campuran adonan dasar komposit, sehingga sewaktu unsur kimia tersebut bersenyawa dan  mengeras,  serat berfungsi sebagai  pengikatnya..

Nylon

Woven roving

Carbon

Kevlar

 

 

 

 

 

 

 


                                                           

 

 

 

 

 


                                                                                               

 

4.6.3.        PVA

Bahan ini berupa cairan kimia berkelir biru menyerupai spiritus. Berfungsi untuk melapis antara cetakan dengan bahan komposit. Tujuannya adalah agar kedua bahan tersebut tidak saling menempel, sehingga komposit hasil cetakan dapat dilepas dengan mudah dari cetakannya

 

 

 

 

 

 

 


.

 

 

 

 

 


4.6.4.         Mirror

Sesuai namanya, manfaatnya hampir sama dengan PVA, yaitu menimbulkan efek licin. Bahan ini berwujud pasta dan mempunyai warna bermacam-macam.

 

 

 

 

 

 

 

 


4.6.5.        Erosil

Bahan ini berbentuk bubuk sangat halus seperti bedak bayi berwama putih. Berfungsi sebagai perekat serat agar komposit menjadi kuat dan tidak mudah patah/pecah.

 

 

 

 

 

 

 


4.6.6.        Katalis/hardener

Zat ini berwarna bening dan berfungsi sebagai pengencer. Zat kimia ini biasanya satu set bersamaan dengan resin. Untuk jenis resin epoxy perbandingan antara resin dengan hardener adalah 1:1 sampai 2:1 Sementara untuk resin polyesther perbandingan antara resin dengan katalis adalah resin 20: 1.

 

 

 

 

 

 


Bahan Bacaan 3

4.7. Metoda Pembuatan Komposit

Secara Garis besar metoda pembuatan material komposit terdiri dari atas dua cara,yaitu :

1.       Proses Cetakan Terbuka (Open-Mold Process)

2.       Proses Cetakan Tertutup (Closed mold Processes)

 

 

4.8. Dasar –Dasar Pembuatan Komposit

Sebagai gambaran misalnya Peserta akan membuat sebuah komposit laminat dengan 8 lapisan serat (arah lapisan serat dibuat dengan sudut 00,+450,-450, 900,900,-450, +450,00dengan teknik hand lay up seperti gambar di bawah ini.

Gambar 4. 3 Lembaran komposit laminat berbagai posisi

 

 

 

 

 

 

 


Proses  membuat campurannya  adalah  sebagai berikut :

1.       Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk pembuatan lembaran komposit sebanyak dua lapis ;

2.       Pembuatan lembaran komposit diawali dengan mengoleskan mold release mirror glaze dan PVA ke permukaan cetakan agar mudah dalam mengambil hasil cetakan.

3.       Satu anyaman serat jenis woven roving  ditata dalam cetakan pada posisi 00;

4.       Siapkan sejumlah resin jenis polyesther  240 ml, campur dengan hardener dengan perbandingan 20:1 aduk sampai rata kemudian oleskan adonan tersebut ke atas permukaan serat pada cetakan;

5.       Lapisan serat berikutnya ditata di atas lapisan yang ke dua dengan posisi serat +450 dan kemudian oleskan dengan adonan hardener polyesther;

6.       Pastikan di atas permukaan serat yang diolesi hardener polyesther tidak ada buble karna buble tersebut dapat mengakibatkan komposit menjadi keropos.

7.       Demikian juga pada lapisan selanjutnya sampai jumlah lapisan sesuai dengan yang direncanakan;

8.       Kemudian tunggu sampai kering. Setelah kering lepaskan komposit tersebut dari cetakan. Hasilnya seperti gambar dibawah ini

 

 

Gambar 4. 4 Komposit laminat

 

 

 

 

 

 

 

 

 


4.9.  Proses Perbaikan Komposit

Secara umum diberikan langkah-langkah dalam proses perbaikan kerusakan pada komposit sesuai dengan struktur repair manual (SRM). Kerusakan ini membutuhkan penggantian dan perbaikan untuk satu atau kedua permukaannya

Langkah 1 : Periksa Kerusakan

Gambar 4. 5 Tap testing technique

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 2 : Bersihkan air di area yang rusak


 

 
 
  
  
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 
  
  

7-35

 

Langkah 3 : Hilangkan bagian yang rusak

Gambar 4. 18 Core damage removal

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 4 : Siapkan Area Rusak

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 5: Instalasi Honeycomb Inti (Wet layup)

Gunakan pisau untuk memotong pengganti inti. Bahan pengganti inti harus dari jenis yang sama. Arah sel inti harus berbaris dengan sisir madu dari bahan sekitarnya. Steker harus dipangkas dengan panjang yang tepat dan akan pelarut dicuci dengan bersih disetujui.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 6 Core replacement

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 6 : Menyiapkan dan instalasi lembaran perbaikan

Konsultasikan manual perbaikan untuk bahan perbaikan yang benar dan jumlah lapisan yang dibutuhkan untuk perbaikan . Biasanya, satu lapis lebih dari jumlah asli dari lapisan diinstal . Potong lapisan dengan ukuran dan orientasi lapisan yang benar. Perbaikan lapisan harus diinstal dengan orientasi yang sama seperti lapisan asli yang sedang diperbaiki. Oleskan  lapisan dengan resin dengan teknik layup wet, atau menghapus bahan backing dari bahan prepreg. Lapisan biasanya ditempatkan menggunakan urutan lapisan layup pertama terkecil.

Langkah 7 : Perbaikan dengan Vacuum Bag

Setelah bahan lapisan berada di tempat, gunakan vakum untuk membuang udara dan untuk menekan pada proses pengeringan. Seperti terlihat pada Lihat Gambar 4.21.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. 7 Perbaikan dengan Teknik Vakum bagg

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Langkah 8 : Pengeringan

Pengeringan pada proses perbaikan pada siklus pengeringan yang diperlukan.Teknik layup wet dapat dikeringkan pada suhu kamar . Suhu tinggi hingga 150 ° F dapat digunakan untuk me percepat pengeringan. Bagian yang bisa dilepas dari pesawat bisa dikeringkan di ruang panas, oven.

Proses perbaikan harus bebas dari lubang, lecet, resin berlebih dan kurang resin. Pengamplasan ringan dilakukan untuk menghasilkan permukaan halus tanpa merusak serat. Terapkan lapisan konduktif( perlindungan terhadap pencahayaan).

 

Langkah 9 : Perbaikan Inspeksi akhir

Gunakan visual, tekan, dan / atau inspeksi ultrasonik untuk memeriksa perbaikan. Lepaskan kembali perbaikan jika cacat ditemukan. [ Gambar 5-26 ]

Kegagalan dalam proses perbaikan dapat mengakibatkan kontrol penerbangan bergetar , dan keselamatan penerbangan bisa terpengaruh .

 

 

 

 

Gambar 4. 8 Inspeksi akhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tugas Maintenance Practice : Composite

  Tugas Maintenance Practice :  Mengerjakan Soal Esai  Jelaskan pengertian material komposit dan sebutkan mengapa material ini banyak di...