Pengikut

Jumat, 15 Mei 2026

Welding, Brazing dan Soldering

1. Welding (Pengelasan)

Welding adalah proses penyambungan logam di mana logam induk (logam utama yang ingin disambung) ikut dicairkan. Biasanya digunakan bahan tambah (filler metal) yang dilelehkan bersama-sama dengan logam induk untuk membentuk ikatan yang sangat kuat setelah dingin.

  • Temperatur Kerja: Sangat tinggi, biasanya di atas 1000°C hingga 3000°C (tergantung jenis logam dan metode las).

  • Kekuatan Sambungan: Sangat kuat, bahkan sering kali lebih kuat daripada logam induknya sendiri.

  • Contoh Aplikasi: Menyambung rangka jembatan, lambung kapal, sasis mobil, dan konstruksi baja bangunan.

2. Brazing (Pematrian Keras)

Brazing adalah proses penyambungan logam di mana logam induk TIDAK ikut meleleh. Proses ini menggunakan bahan pengisi (filler) yang memiliki titik leleh lebih rendah dari logam induk, namun di atas 450°C. Logam pengisi cair akan mengalir ke celah antara dua logam induk melalui fenomena kapiler (daya serap celah sempit).

  • Temperatur Kerja: Tinggi, berkisar antara 450°C 1000°C tetapi selalu di bawah titik leleh logam induk.

  • Kekuatan Sambungan: Kuat, namun masih di bawah kekuatan hasil welding. Cocok untuk menyambung dua logam yang berbeda jenis (misal: tembaga dengan kuningan).

  • Contoh Aplikasi: Menyambung pipa tembaga pada sistem AC/kulkas, pembuatan perhiasan emas/perak, dan alat musik tiup logam.

3. Soldering (Pematrian Lunak / Solder)

Soldering mirip dengan brazing, yaitu logam induk TIDAK ikut meleleh. Perbedaan utamanya adalah temperatur kerjanya yang jauh lebih rendah (di bawah 450°C). Bahan pengisi yang digunakan disebut timah solder.

  • Temperatur Kerja: Rendah, biasanya antara 180°C 450°C.

  • Kekuatan Sambungan: Paling lemah di antara ketiganya. Fungsi utamanya sering kali bukan untuk menahan beban mekanis, melainkan untuk konduktivitas listrik.

  • Contoh Aplikasi: Merakit komponen elektronik pada papan PCB (Printed Circuit Board), menyambung kabel listrik, dan memperbaiki kerajinan kaca patri.

Tabel Perbandingan Ringkas

Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah tabel rangkuman perbedaan ketiganya:

KarakteristikWelding (Las)BrazingSoldering (Solder)
Pencairan Logam IndukYa, ikut melelehTidak melelehTidak meleleh
Suhu OperasiSangat Tinggi (1000°C)Tinggi (450°C - 1000°C)Rendah (450°C)
Bahan PengisiMirip/sama dengan logam indukPaduan kuningan, perak, atau tembagaTimah (tin/lead atau lead-free)
KekuatanSangat Kuat (Mekanis)Kuat (Medium)Lemah (Utamanya untuk Listrik)
Distorsi LogamTinggi (karena panas ekstrem)Rendah hingga SedangSangat Rendah/Tidak ada

Ketiga proses ini—welding (pengelasan), brazing (pematrian keras), dan soldering (pematrian lunak)—adalah metode yang digunakan untuk menyambung material medis (biasanya logam).

Perbedaan utamanya terletak pada temperatur kerja, meleleh atau tidaknya logam induk, dan kekuatan sambungan yang dihasilkan.


Soldering


Solder dan Timah

 t

Menyolder dengan baik bukan sekadar menempelkan timah panas pada komponen, melainkan menciptakan hubungan metalurgi yang kuat dan memiliki konduktivitas listrik yang sempurna.

Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk mendapatkan hasil solderan yang rapi, kuat, dan mengilat (standar profesional).

Menyolder dengan baik bukan sekadar menempelkan timah panas pada komponen, melainkan menciptakan hubungan metalurgi yang kuat dan memiliki konduktivitas listrik yang sempurna.

Berikut adalah panduan langkah demi langkah untuk mendapatkan hasil solderan yang rapi, kuat, dan mengilat (standar profesional).


1. Persiapan Alat dan Bahan

Sebelum mulai, pastikan Anda memiliki perlengkapan dasar berikut:

  • Solder Iron (Solder Listrik): Disarankan yang memiliki pengatur suhu (temperature control). Untuk komponen elektronik, suhu ideal berkisar antara 300°C hingga 350°C.

  • Timah Solder (Solder Wire): Gunakan timah berkualitas dengan inti fluks (flux core), biasanya ukuran diameter 0.8 mm atau 1 mm.

  • Fluks (Solder Paste/Flux): Membantu membersihkan oksigen saat pemanasan agar timah menempel dengan sempurna.

  • Spons Pembersih: Spons basah atau brass wire cleaner (serabut kuningan) untuk membersihkan ujung solder.


2. Langkah-Langkah Menyolder yang Benar

Kunci utama menyolder yang baik adalah memanaskan kaki komponen dan jalur PCB secara bersamaan, bukan melelehkan timah di ujung solder lalu meneteskannya.

Langkah Awal: Tinning (Melapisi Ujung Solder)

Sebelum menyentuh komponen, bersihkan ujung solder yang sudah panas dengan spons, lalu beri sedikit timah hingga ujungnya mengilat. Ini disebut tinning, fungsinya agar hantaran panas dari solder ke komponen menjadi maksimal.

Proses Menyolder (Teknik 1-2-3):

  1. Panaskan (Heat): Tempelkan ujung solder hingga menyentuh kedua bagian yang akan disambung secara bersamaan (misalnya: kaki resistor dan lubang/pad pada PCB). Tunggu sekitar 1–2 detik agar kedua permukaan tersebut cukup panas.

  2. Beri Timah (Feed): Sentuhkan timah solder ke area pertemuan antara kaki komponen dan PCB (bukan ditempelkan langsung ke ujung soldernya). Timah yang bagus akan langsung meleleh dan mengalir mengelilingi kaki komponen karena efek panas tersebut.

  3. Lepaskan (Remove): Tarik timah terlebih dahulu setelah jumlahnya dirasa cukup, kemudian baru tarik ujung solder. Biarkan hasil solderan mendingin secara alami selama 2–3 detik. Jangan ditiup! Meniup solderan yang sedang mendingin bisa membuat struktur timah retak (disebut cold joint).


3. Ciri-Ciri Hasil Solderan yang Baik vs Buruk

Anda bisa mengetahui apakah solderan Anda berhasil dengan melihat bentuk fisiknya setelah dingin:

  • Solderan yang Baik (Sempurna):

    • Bentuknya menyerupai gunung berapi atau kerucut yang cekung.

    • Permukaannya terlihat mengilat (shiny).

    • Timah menutupi seluruh area bantalan (pad) PCB dan mencengkeram kaki komponen dengan rapat.

  • Solderan yang Buruk:

    • Bentuk Bola/Bulat: Ini terjadi karena komponen kurang panas, sehingga timah tidak mau mengalir dan hanya menggumpal (Rawan lepas/putus).

    • Kusam/Retak (Cold Joint): Terjadi karena solder kurang panas, atau komponen bergoyang saat timah sedang mengeras. Koneksi listriknya akan buruk atau tidak tersambung sama sekali.

    • Terlalu Banyak Timah: Gumpalan terlalu besar berisiko membuat korsleting (bridge) dengan jalur di sebelahnya.


Tips Tambahan Jaga Keselamatan & Keawetan Alat

  • Selalu bersihkan ujung solder setiap kali Anda selesai membuat 2–3 titik solderan. Ujung solder yang hitam/kotor akan menghambat panas.

  • Jangan menekan terlalu keras ujung solder ke PCB. Panasnya lah yang bekerja menempelkan logam, bukan tekanan tangan Anda. Tekanan berlebih justru bisa merusak jalur PCB.

  • Lakukan di ruangan dengan ventilasi baik karena asap dari kandungan fluks di dalam timah cukup perih di mata dan tidak sehat jika dihirup terus-menerus.




Semoga Bermanfaat yaaa,, jangan lupa beri saran dan komentar dari materi ini ya blogspotter.. Merci 😊👍

Kamis, 07 Mei 2026

MULTIMETER

 

Bagian-bagian Multimeter Analog

Multimeter merupakan salah satu alat ukur elektrik yang umum digunakan di bengkel otomotif. Multimeter sering disebut multitester atau AVOmeter, memiliki fungsi untuk mengukur nilai resistansi (tahanan), tegangan DC (Direct Current), tegangan AC (Alternating Current), dan arus DC.

Saat ini, terdapat dua macam model multimeter yang umum digunakan yaitu multimeter analog dan multimeter digital. Masing-masing multimeter memiliki fungsi yang sama, namun memiliki cara yang berbeda dalam membaca nilai dan hasil ukur yang terpampang pada layar skala.

Multimeter analog adalah multimeter yang menggunakan papan skala dan jarum pointer, sedangkan multimeter digital menggunakan layar berisi angka digital yang akan tampil saat pengukuran.

Nah pada artikel kali ini, ombro akan berbagi informasi tentang bagian-bagian multimeter khususnya untuk multimeter analog yang menggunakan jarum pointer. Berikut adalah bagian-bagian multimeter analog

AVO Meter Analog






1. Kotak meter (Meter Cover)


Kotak meter (Meter Cover) merupakan cangkang / bodi multimeter. Kotak ini berfungsi sebagai tempat komponen-komponen multimeter. Kotak meter ini umumnya terbuat dari bahan plastik. Pada beberapa model multimeter, kotak meter ini ada yang terbungkus dengan bahan karet untuk mencegah slip dan licin saat digunakan.


2. Skala


Skala berfungsi sebagai skala nilai pembacaan meter. Pada papan skala terdapat nilai-nilai pembacaan untuk masing-masing skala nilai pengukuran, seperti misalnya untuk nilai pengukuran tahanan, nilai pengukuran tegangan AC, nilai pengukuran tegangan DC, atau untuk nilai pengukuran arus listrik.


3. Jarum penunjuk meter (Knife-edge Pointer)


Jarum penunjuk meter (Knife-edge Pointer) ini berfungsi sebagai penunjuk besaran nilai yang diukur. Pada multimeter analog, kerap ditambahkan sebuah cermin pada papan skala agar pembacaan pada jarum penunjuk meter ini menjadi lebih akurat.


4. Zero Adjusting Screw


Zero Adjusting Screw atau sekrup pengatur kedudukan jarum penunjuk adalah komponen multimeter analog yang berfungsi untuk mengatur posisi jarum penunjuk dengan cara memutar sekrupnya ke kanan atau ke kiri dengan menggunakan obeng pipih kecil. Tujuannya adalah agar didapat posisi yang tepat antara nilai 0 pada skala dengan posisi jarum.


5. Zero OHM Adjusting Knob


Zero OHM Adjusting Knob adalah tombol pengatur kedudukan dan posisi jarum penunjuk pada posisi nol untuk pengukuran ohm. Tombol pemutar ini digunakan saat melakukan pengukuran nilai ohm pada resistansi (tahanan), yaitu dengan cara menghubungkan kedua test lead + (merah) yang dihubungkan ke test lead - (hitam) dan memutar tombol pengatur ke kanan atau ke kiri agar posisi jarum tepat berada di posisi nol.



6. Lubang Kutub Positif +


Lubang kutub positif (+) ini adalah tempat untuk memasang test lead positif (+), yaitu kabel probe yang berwarna merah


7. Saklar Pemilih (Range Selector Switch)


Saklar pemilih (Range Selector Switch) adalah komponen multimeter yang berfungsi untuk memilih macam atau tingkat pengukuran sesuai dengan kebutuhan saat pengukuran. Biasanya, setiap multimeter memiliki empat posisi pilihan pengukuran serta satu posisi untuk mematikan (OFF) multimeter tersebut.

Untuk memilihnya, silahkan putar saklar pemilih ke kanan atau ke kiri, lalu posisikan saklar pada macam dan tingkat pengukuran yang dibutuhkan.
Berikut posisi pengukuran yang umum tersedia pada multimeter analog:

  • Posisi Ohm. Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat untuk mengukur nilai tahanan (ohmmeter), yang terdiri dari tiga batas ukur : x1; x10; x100; dan 1K ohm.
  • Posisi ACV (Volt AC). Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat untuk mengukur tegangan AC (voltmeter AC) yang terdiri dari empat batas ukur : 10; 50; 250; dan 500 volt.
  • Posisi DCV (Volt DC). Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat untuk mengukur tegangan DC (voltmeter DC) yang terdiri dari tujuh batas ukur : 0,25; 2,5; 5; 10; 50; 100; dan 500.
  • Posisi DCmA (miliampere DC). Pada posisi ini berarti multimeter berfungsi sebagai alat pengukur arus DC dengan satuan mili ampere (mili amperemeter DC) yang terdiri dari tiga batas ukur : 0,25; 25; dan 2,5 mA.


8. Lubang Kutub Negatif (-)


Lubang kutub negatif (-) ini adalah tempat untuk memasang test lead negatif (-), yaitu kabel probe yang berwarna hitam.


9.Test Lead Negatif (-)


Test lead negatif (-) adalah kabel probe multimeter berwarna hitam yang mengindikasikan posisi negatif (-). Pada bagian ujungnya dipasangkan ke lubang kutub negatif (-) multimeter. Test lead negatif (-) digunakan untuk pengukuran pada benda kerja.


10. Test Lead Positif (+)


Test lead positif (+) adalah kabel probe multimeter berwarna merah yang mengindikasikan posisi positif (+). Pada bagian ujungnya dipasangkan ke lubang kutub positif (+) multimeter. Test lead positif (+) juga digunakan untuk melakukan pengukuran pada benda kerja.

Demikianlah bagian-bagian multimeter analog dan fungsinya yang bisa ombro sampaikan, semoga bisa bermanfaat




Welding, Brazing dan Soldering

1. Welding (Pengelasan) Welding adalah proses penyambungan logam di mana logam induk (logam utama yang ingin disambung) ikut dicairkan . Bia...